Darjeeling

Morning my Darjeeling…
Sepertinya si bunga langit masih enggan memunculkan batang hidungnya pagi ini…
Mungkin lelah setelah berlibur…
Bolehkan dia sedikit telat terbangun?
Gantinya si hujan kecil berlomba-lomba menemani membasuh wajah mereka yang tak segan melangkah saat dini…
Menyesapmu begitu hangat pagi ini…
Mungkin mereka bilang…
“Ah itu hanya sekumpulan daun yang diseduh seperti biasa, apa bedanya?”
Abaikan saja, mereka tak pernah mengerti bagaimana membangun hubungan sedekat ini…
Walau hanya dalam secangkir Darjeeling…
Jika mereka tidak dapat menghargai bagaimana hal kecil bisa di bangun, bagaimana mereka dapat menenggang rasa mereka pada yang lain?

Jakarta berpayung pagi meng-abu, 9 April 2018
Fariecha Hady

#dengokow #coffeeshop #kopi #kuliner #coffeetime #coffeegram #coffee #coffeedaily #wiskul #jakarta #hits #kekinian #kafe #cozy #cappucinno #latte #manualbrew #barista #kopinusantara #roastery #cake #kulinerhits #depok #jakarta

Advertisements

1 CM – Bagian Ketiga

Kereta penghubung antara Kota Metropolitan dengan Kota Hujan mengangkut lamunanku bersamanya di atas bantalan rel yang berderak tanpa nada. Aku hanya menatap awan yang berkejaran dari balik jendela gerbong yang membatasi pandangan. Hanya selapis kaca, tapi aku pun tak bisa melakukan lebih untuk sekedar mendongak keluar. Lagi-lagi seperti itu, sekat yang tak terlihat ini membuat gerak sekedar mendekatpun sulit. Kereta ini pun terus melaju untuk membawaku sedikit melangkah kepadamu.

Gerbong tempatku berdiri pun mulai membuka pintunya pelan tapi tegas. Sudah di stasiun terakhir rupanya. Aku yang berdiri didepan pintu gerbongpun merasakan hempasan angin dingin menyeruak kedalam gerbong. Gerbong sudah dingin, tapi angin sehabis hujan pun tak mau kalah menampar wajahku yang melamun, buyar seketika.

Kakiku mulai menjejak keluar perlahan, menyusuri peron yang masih dipenuhi orang-orang yang turun di stasiun Kota Hujan ini. Aku mulai berjalan mencari pintu keluar sembari beradu bahu sesekali dengan orang yang lalu lalang. Tas kecilku pun sedikit ku hadapkan untuk memastikan tidak terjadi hal yang merugikanku. Karena aku masih harus memenuhi janjiku dengan seseorang untuk bertemu. Ku buka ponselku untuk mengabarkan orang yang telah menungguku, bahwa aku telah tiba di kota tersebut.

“Ah…ternyata dia sudah sampai terlebih dahulu”, gumamku pelan saatku lihat layar ponselku yang berisi pesan darinya yang telah menungguku disebuah retail makanan didepan rumah sakit di Kota Bogor. Segera jariku beralih ke aplikasi pemesanan ojek online. Masih menjadi salah satu kendaraan andalanku dalam berjelajah, terutama di kota yang tidak begitu aku kenal. 10 Menit kemudian aku telah beralih di belakang pengendara ojek menuju tempat yang kumaksud.

Tak butuh waktu lama, karena jarak yang tidak terlalu jauh dari stasiun. hanya butuh 10 menit kembali dan aku telah sampai. Ku edarkan pandanganku mencari sosok yang ku cari dan tatapanku berhenti pada sosok kaos berkerah di ujung ruangan yang kursinya telah diisi oleh beberapa pengunjung lainnya.

Dengan tersenyum lalu ku sapa sosok yang sedang menatap layar kaca ponselnya.

“Assalamu’alaikum Mas Fery…”

Bersambung….

AKU KAU HARAP KARENA AKU BERBEDA

Jikalau aku berada dalam do’amu…

Jikalau aku berada disetiap senyum hari-harimu…

Jikalau aku berada dalam setiap harap sepertiga malammu..

Jikalau memang aku yang berada dalam harapanmu…

Yang ku kira mungkin…

Ada lebih yang melintas…

Tanpa kurang yang terlintas…

Ada yang berbeda dari yang lain ?

Mungkin…

Kau baru membuka prolog dalam lembarannya…

Aku memang berbeda…

Hingga aku risau…

Aku dalam nada dan bait yang tak biasa…

Sangat rumit, hingga kau perlu cadangan energi dalam sekedar menyenandungkannya…

Bahkan perlu kemampuan khusus untuk sekedar menjaga baitnya tetap indah…

Tak tahukah bila nada itu pernah sengau hingga berkali-kali…

Senar biola telah putus berulang karena gesekannya yang terlalu sembarangan…

Terlalu keras akhirnya meregang…

Terlalu lembut akhirnya melebar…

Dan sentuhan tak sesuai lainnya…

Aku tak seperti lelaki kebanyakan…

Aku terlalu seperti cermin…

Yang kamu dapat adalah yang kamu tampilkan…

Kau pukul kecilpun dia akan retak…

Kau jatuhkan, maka kamu tidak akan pernah menyusunnya seperti sedia kala…

Aku terlalu tahu semua sudut sekecil apapun hingga tangis dan khawatir menjadi teman baiknya sehari-hari…

Aku yang sekarang hanya lebih rapuh…

Jika kau tidak menemukan cara yang tepat membangunkannya, kamu hanya punya dua pilihan…

Pergi saat itu juga atau kamu siap mengorbankan perasaan dan egomu untuk sementara waktu hingga menemukan cara itu…

Aku hanya bisa menunggu bagi kamu yang dapat menemukan cara itu…

Karena aku takut menghancurkan seseorang jika aku maju terlebih dahulu dan kamu tidak memiliki cara tersebut dan berakhir dengan kekecewaanmu karena aku…

Aku ini berbeda…

Terlalu mudah rintik air mata jatuh…

Terlalu mudah memberikan yang tak pernah diberikan mereka sebelumnya…

Hingga akupun mudah dijatuhkan berkali-kali…

Maafkan aku yang berbeda…

Hingga kamu perlu sesuatu yang berbeda pula…

Jakarta, 28 Januari 2018

Catatan Malam di Rintik Selatan Jakarta

Kawan Lawan

Hai langit di Timur Kota Metropolitan…
Terkadang kita lupa…
Yang kita lihat hanya fatamorgana manis…
Mengabaikan realita…
Sehingga melihat racun sebagai madu…
Bahkan mereka tak peduli kau tergeletak bergetar ditanah meranggas…
Mereka meninggikan ego merasa benar…
Atau bahkan mengacuhkanmu yang menggelepar…
Lupa kau dulu kawan…
Bahkan kekasih dibawah awan….
.
Take with Xiaomi Redmi Note 4 Snapdragon – Manual
.
TMII – Jakarta Timur
By @fariechahady
.
#photography #xiaomi #redminote4 #snapdragon #sky #flag #photo #daily #hdr #camera #instadaily #poetry #poem #puisi #sajak

KAMU DULU AKU

Mengintip dalam celah…

Lalu tersipu malu…

Lama kau tak tahu…

Bahwa ku menatapmu dari lubang jerami…

Lalu kututup kembali…

Tanpa ku tahu…

Kau pun menatapku…

Dari jauh…

Pun dari lubang jerami…

Disisi yang terbalik…

Walau tak se-zaman…

Aku menatap dari depan ke belakang…

Kamu menatap dari lalu menuju ke depan…

Kita saling menatap tapi tak pernah tahu…

Lucu…

Tak pernah ku temui sosok itu dalam tubuh mungil disana…

Jauh mengalahkan tubuh tua mental kanak…

Kamu adalah aku yang dulu…

Jadikan aku sekawan dalam perjalanan hidupmu…

Agar kamu tahu yang telah aku lalui…

Agar aku mengingat lalu ku….

Menjadi kita yang sekarang…

Jakarta dulu Lampung

28 November 2017

@FariechaHady

PANGERAN KECIL – BANDA NEIRA (LIRIK)

Tidur, tidurlah sayang
Esok kan segera datang
Tutup buku kesayanganmu itu
Esok atau lusa kita buka kembali

Tidur, tidurlah sayang
Malam terlalu larut untukmu
Simpan buku kesukaanmu itu
Tarik selimutmu coba pejamkan mata

Beri tanda pada gambar yang kau suka
Rubah dalam gua, atau mawar dalam kaca
Beri tanda pada lembar yang kau suka
Pangeran kecil kabur terbang bersama kita

Tidur, tidurlah sayang
Lelah kan menidurkan matamu
Singgahlah ke tempat teman-temanmu
yang menyapamu di dalam lelap dan tidurmu

LIRIK : PANGERAN KECIL – BANDA NEIRA

DI BERANDA – Banda Neira (Lirik)

Oh, Ibu tenang sudah
lekas seka air matamu
sembapmu malu dilihat tetangga

Oh, ayah mengertilah
Rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluknya

Ho ooo Ho ooo Ho ooo Ho ooo
Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi

Tak usah kau cari dia tiap pagi
Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk (untuk) sementara waktu pergi
Uuu Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita (kita) berdua tahu, dia pasti

Pulang ke rumah (pulang ke rumah)
Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi

Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk (untuk) sementara waktu pergi
Uuu Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah
Kita berdua tahu, dia pasti
Dan jika suatu saat
Buah hatiku, buah hatimu
Untuk (untuk) sementara waktu pergi
Uuu Usahlah kau pertanyakan kemana kakinya kan melangkah
Kita (kita) berdua tahu, dia pasti
Pulang ke rumah (pulang ke rumah)

Lirik Di Beranda – Banda Neira

Album : Berjalan Lebih Jauh

PELARI SAVANA

Pelari itu tak henti walau sejenak…

Lelahnya tak mencapai ujung…

Butiran peluhnya bergulir…

Menjangkau setiap epidermis berwarna langsat…

Tak dapat berbeda lagi dengan embun di ujung ilalang…

Jatuh pun dia berlari…

Lupa jika jatuh berkali-kali di tempat yang sama adalah kebodohan…

Tapi hati juga lupa bahwa savana itu adalah realita…

Logika berangsur luruh bersama peluh itu…

Pahamkah?

Belum tentu…

Dia sama sepertiku…

Hanya pelari di roda hidup dengan terkaman singa ber-make up…

Yang memberikan hatinya untuk santapan ekspetasi terlalu tinggi…

Aku Pelari Savana….

Jakarta, 9 November 2017

@FariechaHady

SETENGAH TIGA

Tik tok tik tok tik tok…

Hening…

Tik tok tik tok tik tok…

Lelap…

Tik tok tik tok tik tok…

Masihkan bergelut dengan nyenyak?

Tik tok tik tok tik tok….

Kriiiiiiiiiiiing…..

Tersentak…

Tak perlu berdebar…

Bukankah sudah terbiasa?

Lalu kenapa kesal?

Belum cukup terpejam kau menikmati dalam mimpi?

Cepatlah…

Kau takkan sekesal ini jika air itu telah membasuhmu…

Kau akan berterima kasih padaku jika do’amu terkabul setelah ini…

Bukankan kamu memintaku untuk berbunyi di Setengah Tiga?

Lalu kenapa kau kesal…

Aku saja hanya sabar tanpa bosan membuyarkan mimpimu…

Karena aku tahu kamu butuh do’a mewujudkan mimpimu itu…

Bogor, 30 Oktober 2017

@FariechaHady