JODOH TAK SEMPURNA

Siapa bilang orang ini tampan?

Tentu tidak dan jauh tak sebanding jika tersandingkan dengan wajah-wajah bersinar riasan… 

Siapa bilang orang ini sangat sholeh? 

Tentu tidak jika kadar iman setiap manusia sendiri turun naik dan hanya bisa menjaga agar selalu melihat jalan-Nya… 

Siapa bilang orang ini kaya raya? 

Tentu tidak karena semua ini titipan untuk di kembalikan bahkan Hagia Sophia jadi tujuan karena keyakinan do’a… 

Siapa bilang orang ini sempurna…?

Tentu tidak jika laki-laki ini di sandingkan dengan bayangan laki-laki impianmu… 

Tapi orang ini yakin bahwa setiap tetes keringatnya akan diperjuangkan dan tak pernah kering untuk memberikan tujuan hidupmu lebih dari sekedar memberi arti dalam kebaikan di jalan-Nya… 

Karena orang ini yakin… 

Tak ada seorang imam yang baik dimanapun posisi nya ingin mencelakakan orang di sekitarnya… 

Termasuk keluarganya… 

Karena waktu tak akan pernah berhenti untuk selalu berbuat lebih baik dan selalu ada kesempatan bahkan melalui 3 amal yang tak pernah putus…

.

Bukankah setiap kekurangan bukan untuk di tinggalkan tanpa diperbaiki? 

Bukankah tujuan setiap manusia diciptakan berpasangan salah satunya untuk saling mengingatkan? 

Bukan untuk saling menjauhkan…

Bukankah rasa itu indah jika hanya karena-Nya, bukan karena kelebihannya…

(Fariecha Hady, 13 Ramadhan 1438H)

PENGGALAN KATA

Jika menginginkan takdirmu sempurna…

Lalu bagaimana bisa saling menyempurnakan…

Bukankah yang hadir untuk saling melengkapi kekurangan? 

Jika sudah terlahir sempurna atau mengharapkan yang hampir sempurna, bukankah tak perlu siapa-siapa lagi untuk menyempurnakannya? 

Lalu untuk apa mencari atau menunggu lagi…

Tapi tatapanmu tak mengartikan itu semua…

Kamu hanya butuh pengingat bahwa dirimu tidak sesempurna itu…

Dan orang itu yang akan menyempurnakanmu karena-Nya…

InsyaAllah… Biarkan takdir dan do’a berdiskusi di Arasy…

Untuk menyempurnakan semuanya…

Bahwa ada Pangeran yang tak sempurna yang ingin menyempurnakan agamanya…
Fariecha Hady, 

Road to Hagia Sophia

Antara Bogor, Klaten & Bosphorus

Jika kata menjadi hening…

Sadarkah jika sang perangkai gelisah membisu? 

Hatinya ingin mengucap…

Tapi sunyi keluar berlanjut…

Jarak ini tidak akan berbatas…

Jika tengadahmu menitip rindu selalu menghinggap…

Tak ada yang tahu…

Klaten mungkin tengah menungguku…

Saat aku sedang terpaku di Selat Bhosporus…

 “Ketika Cinta Tertulis di Lauhul Mahfudz”
Bogor, 26 Mei 2017

Untuk Kamu Yang Menghentikan Hatiku

Mungkin sudah setahun…

Bahkan mungkin lebih…

Entah kapan media sosial kita terhubung…

Dulu aku hanya melihat sekilas…

Tak berlama-lama…

Karena aku tidak ingin jatuh hati sembarangan…

Sekilas aku melihat beberapa lensa mu mengambil indahnya Turki…

Impianku dari SD untuk kuliah disana…

Entah mengapa aku memilih Turki saat kecil padahal aku tak tahu Turki sebenarnya…

Bahkan bersama temen SD ku berjanji untuk bertemu disana saat kuliah…

Temanku mewujudkan janjinya…

Dia kuliah di Turki setelah 6 tahun tak bertemu…

Tapi apa daya…

Dulu aku dilarang untuk sekolah diluar negeri dengan alasan untuk menjaga diri walaupun itu beasiswa karena untuk kuliah dengan biaya sendiri hampir tak mungkin…

Ya… Akhirnya aku hanya memulai untuk merajut asa sebagai pegawai kantoran…

Jenuh….

Akhirnya ku temukan tempat penulis berkumpul….

Aku bergabung dengan Forum Lingkar Pena Depok beberapa tahun lalu yang akhirnya membuat inner circle kita di kalangan penulis…

Dan akhirnya aku pun keluar sebagai pegawai kantoran…

Aku mulai mengajar bahasa di beberapa sekolah dan privat sambil mulai menulis “calon novel” ku….

Lalu mulai merintis usaha kecil-kecilanku…

Disaat aku mulai lelah dan berserah dengan takdir-Nya…

Aku teringat lensa Turki mu untuk mengingat impian masa kecilku…

Dan entah mengapa hatiku tergerak sendiri…

Biasanya aku mencoba melamar seseorang secara langsung…

Tapi untuk saat ini entah mengapa tanpa sadar, aku sangat membutuhkan perantara…

Dan entah mengapa walau aku tidak kenal dirimu sebelumnya (karena aku ga terlalu kepo) tapi aku yakin dan butuh waktu berminggu-minggu sambil aku mencari orang yang tepat…

Pilihanku terhenti pada 2 orang…

Dan tanpa sadar aku mencoba untuk minta bantuan salah seorang adik kelasku yang selama ini ada dalam do’a karena kebaikan keluarganya saat aku masih SMA dulu…

Dan gayung pun bersambut….

Alhamdulillah… Ini pertama kalinya aku mencoba untuk melamar seseorang menggunakan CV…

Gelisah… Deg-degan…

Cuma bisa diungkapkan dalam do’a dan sujudku…

Lalu kisi-kisi datang dari adik kelasku…

Background keluarganya…

Bahkan aku baru tahu jika dia seorang penulis 2 hari lalu…

Dan baru saja aku melihat postingannya yang baru meluncurkan usaha barunya…

Dan Subhanallah nya…. Semua yang ada pada dirinya adalah do’a yang pernah ku panjatkan…

Tapi aku mulai memasrahkan diri tidak meminta yang macam-macam akhir-akhir ini dan berdo’a hanya diberikan pendamping dunia akhirat yang tepat menurut-Nya bukan menurutku….

Dan saat ini Allah mengabulkan do’aku selama ini…

Sangat indah memang rindu dalam sujud…

Tinggal ku tunggu apakah Allah akan menghentikan hati mu di aku….

Atau hanya hatiku yang berhenti di kamu ?

Hanya Allah yang Tahu cinta siapa yang tertulis di Lauhul Mahfudz….

Bogor, 17 Mei 2017

Memantaskan diri dalam penantian….

MENGHITUNG DETIK

Degup ini terlalu kencang nona…

Padahal nona bertemu pun tidak…

Tidakkah ganjil kau pikir nona…

Begitu sederhana tapi luar biasa…

Nona…

Impian masa depan ini terlalu luar biasa nona…

Tersulam dalam hiasan bak pernik disusun lembut…

Semua ini terlalu kencang nona…

Bahkan sebelum ku tahu siapa kamu…

Sebelum aku kembali lagi hari ini nona…

Membawa sebuah rencana…

Dalam bayangan indah syurga nona…
Bogor, 16 Mei 2017

PELITA SENDU

Ku kira ku telah terbiasa sendiri kembali…

Ku kira ku akan kembali kuat menahan mu…

Ku kira ku kan bertumpu mandiri…

Hingga kau datang kembali dalam hitungan tahun tak menyapa…

Pijakanku beralih harap kembali…

Tapi tak tepat rasanya…

Wajarkah jika tidak hanya kamu yang berhati-hati dari masa lalu ?

Wajarkah bila aku pun menjaga khawatir ?

Wajarkah bila ku penuhi semua yang kamu katakan tapi alasan berikutnya selalu datang ?

Wajarkah bila ku takut akan sia-sia kembali ?

Permata di ujung pelupuk terpaksa jatuh kembali dalam sepertiga ini…

Lelah…

Bahkan niat baik pun tetap sulit…

Lelah harus menjadi orang bodoh yang berjuang dengan impian tak berujung…

Lelaki juga memiliki hati yang berulang kali remuk dia pun rapuh…

Hanya kamu yang bisa…

Tapi mungkin sebaliknya…

Berharap lelahku dibasuh hatimu…

Bogor, 1 Mei 2017

– Bulan Geminiku dalam sendu –

TEMU TITIK TEMU

Bab ini akan segera berakhir…

Beberapa baris ini siap bertemu…

Di ujung titik bait demi bait aksara…

Bab ini akan segera berakhir…

Titik darimu ku tunggu sebelum lembar ku balik…

Kamu titik itu…

Titik temu dalam lembar baru selanjutnya…

Atau titik itu ketemui lalu ku buka dalam lengangnya bab baru menyendiri…
Bogor, 21 April 2017

Menunggu istikharah….

Selamat Malam Ruang Aksara

Tidurlah Aksara…

Malam ini terlalu indah untuk termenung…

Terlalu indah untuk melewatkan mimpi…

Kan ku undang dengan secangkir kopi dalam lelap…

Tak lupa goresan nama mu terpatri…

Tunggu sejenak…

Tulisanku terhenti sekejap…

Hingga menulis bersama hingga senja setelah terbangun….

Jakarta, 15 April 2017

By Fariecha Hady

Arumanis

Dulu tak ku kecap sekalipun bibir gelas ini…

Hanya insting ku beri pada setiamu…

Tapi itu perlu waktu hingga kau kembali lagi…

Lalu kembali…

Dan kembali lagi…

Hingga kamu tetap bahagia walau lelah itu hinggap…

Arumanis ini ku tata dalam tatapanmu…

Agar kamu segera mengecap pahit dan manisnya bersama…

Racikan ini tak biasa…

Karena sepenuh hati ku sajikan untukmu…

Secangkir masa depan yang coba kita rajut…
Bogor, 12 April 2017

By Fariecha Hady

SAGA SENJA

Kopiku dingin menuju saga senja…

Tak jua seimbang dalam dingin air…

Bahkan manisnya gula larut dalam hitam…

Satu persatu cahaya itu melaju tenang…

Meninggalkan harapan yang dulu pernah bertumpu…

Ku rindu dalam oranye menuju gulita…

Menikmati setiap teguk yang tertahan di rahang…

Jakarta, 11 April 2017

By FH – Ketika Cinta Tertulis di Lauhul Mahfudz