KELANA

Puan menjatuhkan Tuan…

Di terik yang berkarat…

Tanpa iba mengikis semua percaya…

Lalu kemana tuan harus mengadu…

Hanya debu tanpa harus menunggu…

Lalu kenapa tuan masih membiru…

Terbujur kaku tak peduli suhu…

Kau bodoh tuan…

Kau bodoh tuan…

Kau bodoh tuan…

Tunggu sampai tuan tahu semua hanya bingkisan angan…

Kau telah membodohi tuan hai puan…

Jakarta, 5 Oktober 2018

By FH – Tuan di Selatan Jakarta

Advertisements

MATA BERANGIN

Kita tidak pernah tahu kemana layar kita mengarah…
Utara?
Selatan?
Barat?
Timur?
Apakah kita sadar jika angin tak lagi mengelus kita?
Mengakhirkan segala rencana perjalanan kita..
Lalu daripada berfikir penuh asa kemana kita kan mengarah?
Sudahkah kita merubah cara berlayar kita?
Bersyukur dan memperbaiki…
Sampai kita tiba di tujuan akhir…
Atau berhenti di tengah ombang ambing lautan…

Surabaya, 29 Juli 2018

By Fariecha Hady

BARISAN ELEGI

Saat ini aku larut dalam berbau asa…
Jenaka tak lagi mempan menyentuh sukma…
Arahnya tak lagi terpaku mata angin…
Melawan itu hancur…
Menyerah bukan pilihan…
Hingga ufuk di barat merebah…
Aku tergagu menatap hening…

Jakarta, 31 Agustus 2018
@fariechahady

#poetry #poem #melankolis #puisi #sajak #elegi #romantic

MULAI DARI TITIK

Di kota ini aku bisa merindu…
Hingga tapak di setiap sudut per sudutnya menghadirkan rindu yang berbeda…
Aku bukan “3 hari tuk selamanya Float”…
Cerita ini berbeda dari kota singgahku…
Terlalu dalam aku menyelam dalam dinginnya kota Apel…
Melenyapkan setiap panas yang ku bawa dari ibukota…
Sesuatu yang hilang itu disini…
Hingga rindu itu mungkin kan kembali membawaku melangkah di kota ini…
Bersama pasir berbisik di atas sana…

@fariechahady
Bromo, 4 Agustus 2018
(Mulai dari titik)

Darjeeling

Morning my Darjeeling…
Sepertinya si bunga langit masih enggan memunculkan batang hidungnya pagi ini…
Mungkin lelah setelah berlibur…
Bolehkan dia sedikit telat terbangun?
Gantinya si hujan kecil berlomba-lomba menemani membasuh wajah mereka yang tak segan melangkah saat dini…
Menyesapmu begitu hangat pagi ini…
Mungkin mereka bilang…
“Ah itu hanya sekumpulan daun yang diseduh seperti biasa, apa bedanya?”
Abaikan saja, mereka tak pernah mengerti bagaimana membangun hubungan sedekat ini…
Walau hanya dalam secangkir Darjeeling…
Jika mereka tidak dapat menghargai bagaimana hal kecil bisa di bangun, bagaimana mereka dapat menenggang rasa mereka pada yang lain?

Jakarta berpayung pagi meng-abu, 9 April 2018
Fariecha Hady

#dengokow #coffeeshop #kopi #kuliner #coffeetime #coffeegram #coffee #coffeedaily #wiskul #jakarta #hits #kekinian #kafe #cozy #cappucinno #latte #manualbrew #barista #kopinusantara #roastery #cake #kulinerhits #depok #jakarta

1 CM – Bagian Ketiga

Kereta penghubung antara Kota Metropolitan dengan Kota Hujan mengangkut lamunanku bersamanya di atas bantalan rel yang berderak tanpa nada. Aku hanya menatap awan yang berkejaran dari balik jendela gerbong yang membatasi pandangan. Hanya selapis kaca, tapi aku pun tak bisa melakukan lebih untuk sekedar mendongak keluar. Lagi-lagi seperti itu, sekat yang tak terlihat ini membuat gerak sekedar mendekatpun sulit. Kereta ini pun terus melaju untuk membawaku sedikit melangkah kepadamu.

Gerbong tempatku berdiri pun mulai membuka pintunya pelan tapi tegas. Sudah di stasiun terakhir rupanya. Aku yang berdiri didepan pintu gerbongpun merasakan hempasan angin dingin menyeruak kedalam gerbong. Gerbong sudah dingin, tapi angin sehabis hujan pun tak mau kalah menampar wajahku yang melamun, buyar seketika.

Kakiku mulai menjejak keluar perlahan, menyusuri peron yang masih dipenuhi orang-orang yang turun di stasiun Kota Hujan ini. Aku mulai berjalan mencari pintu keluar sembari beradu bahu sesekali dengan orang yang lalu lalang. Tas kecilku pun sedikit ku hadapkan untuk memastikan tidak terjadi hal yang merugikanku. Karena aku masih harus memenuhi janjiku dengan seseorang untuk bertemu. Ku buka ponselku untuk mengabarkan orang yang telah menungguku, bahwa aku telah tiba di kota tersebut.

“Ah…ternyata dia sudah sampai terlebih dahulu”, gumamku pelan saatku lihat layar ponselku yang berisi pesan darinya yang telah menungguku disebuah retail makanan didepan rumah sakit di Kota Bogor. Segera jariku beralih ke aplikasi pemesanan ojek online. Masih menjadi salah satu kendaraan andalanku dalam berjelajah, terutama di kota yang tidak begitu aku kenal. 10 Menit kemudian aku telah beralih di belakang pengendara ojek menuju tempat yang kumaksud.

Tak butuh waktu lama, karena jarak yang tidak terlalu jauh dari stasiun. hanya butuh 10 menit kembali dan aku telah sampai. Ku edarkan pandanganku mencari sosok yang ku cari dan tatapanku berhenti pada sosok kaos berkerah di ujung ruangan yang kursinya telah diisi oleh beberapa pengunjung lainnya.

Dengan tersenyum lalu ku sapa sosok yang sedang menatap layar kaca ponselnya.

“Assalamu’alaikum Mas Fery…”

Bersambung….

AKU KAU HARAP KARENA AKU BERBEDA

Jikalau aku berada dalam do’amu…

Jikalau aku berada disetiap senyum hari-harimu…

Jikalau aku berada dalam setiap harap sepertiga malammu..

Jikalau memang aku yang berada dalam harapanmu…

Yang ku kira mungkin…

Ada lebih yang melintas…

Tanpa kurang yang terlintas…

Ada yang berbeda dari yang lain ?

Mungkin…

Kau baru membuka prolog dalam lembarannya…

Aku memang berbeda…

Hingga aku risau…

Aku dalam nada dan bait yang tak biasa…

Sangat rumit, hingga kau perlu cadangan energi dalam sekedar menyenandungkannya…

Bahkan perlu kemampuan khusus untuk sekedar menjaga baitnya tetap indah…

Tak tahukah bila nada itu pernah sengau hingga berkali-kali…

Senar biola telah putus berulang karena gesekannya yang terlalu sembarangan…

Terlalu keras akhirnya meregang…

Terlalu lembut akhirnya melebar…

Dan sentuhan tak sesuai lainnya…

Aku tak seperti lelaki kebanyakan…

Aku terlalu seperti cermin…

Yang kamu dapat adalah yang kamu tampilkan…

Kau pukul kecilpun dia akan retak…

Kau jatuhkan, maka kamu tidak akan pernah menyusunnya seperti sedia kala…

Aku terlalu tahu semua sudut sekecil apapun hingga tangis dan khawatir menjadi teman baiknya sehari-hari…

Aku yang sekarang hanya lebih rapuh…

Jika kau tidak menemukan cara yang tepat membangunkannya, kamu hanya punya dua pilihan…

Pergi saat itu juga atau kamu siap mengorbankan perasaan dan egomu untuk sementara waktu hingga menemukan cara itu…

Aku hanya bisa menunggu bagi kamu yang dapat menemukan cara itu…

Karena aku takut menghancurkan seseorang jika aku maju terlebih dahulu dan kamu tidak memiliki cara tersebut dan berakhir dengan kekecewaanmu karena aku…

Aku ini berbeda…

Terlalu mudah rintik air mata jatuh…

Terlalu mudah memberikan yang tak pernah diberikan mereka sebelumnya…

Hingga akupun mudah dijatuhkan berkali-kali…

Maafkan aku yang berbeda…

Hingga kamu perlu sesuatu yang berbeda pula…

Jakarta, 28 Januari 2018

Catatan Malam di Rintik Selatan Jakarta

Kawan Lawan

Hai langit di Timur Kota Metropolitan…
Terkadang kita lupa…
Yang kita lihat hanya fatamorgana manis…
Mengabaikan realita…
Sehingga melihat racun sebagai madu…
Bahkan mereka tak peduli kau tergeletak bergetar ditanah meranggas…
Mereka meninggikan ego merasa benar…
Atau bahkan mengacuhkanmu yang menggelepar…
Lupa kau dulu kawan…
Bahkan kekasih dibawah awan….
.
Take with Xiaomi Redmi Note 4 Snapdragon – Manual
.
TMII – Jakarta Timur
By @fariechahady
.
#photography #xiaomi #redminote4 #snapdragon #sky #flag #photo #daily #hdr #camera #instadaily #poetry #poem #puisi #sajak